Tinja Diubah Menjadi Energi di Luar Angkasa




NASA
Stasiun Antariksa Internasional (ISS).
Satelit pertama milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bagian dari UNESCOSat Project yang berbiaya 5 juta dollar AS, akan diluncurkan tahun depan. Peluncuran satelit ini bertujuan untuk membantu proses pendidikan, meningkatkan minat pada sains, dan meningkatkan kerja sama global.

Kini, satelit itu memiliki tujuan tambahan. Satelit itu akan digunakan untuk melihat kemungkinan bakteri bisa hidup dan melakukan metabolisme di luar angkasa. Muaranya adalah kemungkinan bahwa bakteri bisa dimanfaatkan untuk mengubah kotoran para astronot menjadi sumber bahan bakar di luar angkasa.

"Ini hal yang sangat potensial. Kita bisa mengambil sampah dan menggunakannya untuk membangkitkan listrik dalam misi ke luar angkasa," kata Donald Platt, Direktur Program Space Science dari Florida Institute of Technology, yang menjadi ketua misi ini.

Untuk melakukannya, para peneliti melengkapi satelit tersebut dengan tempat tes, saluran pencampur, dan pompa solenoide. Selain itu, akan disertakan juga bakteri anaerobik, sejenis bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam melakukan metabolisme.

Bakteri yang akan digunakan adalah Shewanella MR-1. Bakteri tersebut diketahui mampu mengubah kotoran menjadi bahan bakar hidrogen, bahan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat luar angkasa. Para peneliti ingin melihat dahulu efek tekanan dan gravitasi terhadap siklus hidup bakteri itu.

Para ilmuwan telah menemukan cara mengubah urine menjadi air minum untuk konsumsi selama di stasiun luar angkasa. Mampukah mereka memproduksi bahan bakar dari tinja untuk kebutuhan energi di luar angkasa?
wired science
Sumber :kompas.com

500 Ledakkan Dahsyat di Angkasa


Satelit Swift milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sejak tahun 2004 telah mengamati terjadinya ledakan-ledakan besar di luar angkasa. Hingga kini sudah 500 ledakan besar yang terdeteksi.

Seperti dilansir space.com, Kamis 22 April 2010, ledakan besar itu dipicu dari sinar Gamma yang merupakan energi terbesar dari cahaya.Semburan sinar Gamma yang singkat dan menimbulkan ledakan 'cemerlang' itu mewakili potensi energi yang sangat besar yang disimpannya.

Sejak diluncurkan pada 2004, satelit Swift milik NASA juga telah mencari sinar gamma yang berpotensi menimbulkan ledakan dahsyat itu. Swift telah melaporkan secara rutin catatan kecil kepada para astronom tentang ledakan besar di ruang angkasa.

"Dari sisi lain itu hanya sekadar angka-angka. Tetapi menurut kami itu adalah batu loncatan yang luar biasa," kata Neil Gehrels, peneliti utama Swift di Goddard Space Flight Center di Greenbelt.

"Masing-masing ledakan menciptakan potongan-potongan teka-teki baru. Tetapi pada akhirnya gambaran lengkap itu bisa terlihat jelas," ujar dia.

Sumber ledakan sinar gamma itu berasal dari bintang-bintang yang 'sekarat' yang berada miliaran tahun cahaya dari bumi. Dengan kata lain, lokasinya tidak hanya sangat jauh dari bumi tapi juga memiliki energi yang sangat kuat.

Ledakan yang terjadi itu bisa terjadi dalam waktu singkat atau panjang. Ledakan sinar gamma, yang terjadi lebih dari dua detik, bisa mematikan bintang-bintang besar di sekitarnya.

vivanews.com

Tata Surya Terbesar Ditemukan




 
(NASA/JPL-Caltech/ESO/Univ. of Michigan)

Sebuah sistem tata surya yang terdiri dari satu bintang dan tujuh planet terdeteksi berjarak 127 tahun cahaya dari bumi. Diperkirakan, tata surya ini terbesar di alam semesta, dan melebihi matahari.

Seperti dilansir Dailymail Rabu, 25 Agustus 2010, para astronom telah mempelajari sistem ini selama enam tahun dengan menggunakan instrumen penemu planet yang disebut HARPS spectrograph di La Silla, Chile.

"Ini merupakan penemuan luar biasa. Ini pun menunjukkan fakta bahwa kita memasuki era baru dalam penelitian exoplanet (planet di luar sistim tata turya): studi kompleks mengenai sestem planet," kata Christophe Lovis yang memimpin ilmuwan European Southern Observatory (ESO).

Dia menjelaskan bahwa studi pergerakan sistem planet ini mengungkap kompleksitas interaksi dari gravitasi antar planet. Temuan ini, kata dia, memberikan pencerahan bagi ilmuwan terkait evolusi jangka panjang sistem planet-planet ini.

Pakar astronomi telah mengkonfirmasi keberadaan lima planet di sistem tata surya yang baru ditemukan ini dan sedang meraba-raba dua lainnya karena belum terjangkau. Jarak induk bintang tata surya ini mengikuti pola umum sebuah tata surya seperti matahari. Bintang induknya dinamai HD 10180, berada di bagian selatan kumpulan bintang Hydrus, dan berjarak 127 tahun cahaya.

Lima planet dalam tata surya ini mengorbit dari enam sampai 600 hari. Jarak planet-planet dari HD 10180 bervariasi mulai 0,06 sampai 1,4 kali jarak bumi-matahari. Sementara massanya berkisar antara 13 sampai 25 kali bumi.

Dr. Lovis menambahkan para ilmuwan memiliki alasan cukup kuat untuk menyatakan bahwa dua planet lainnya memang ada. "Satu akan seperti Saturnus (dengan massa minimal 65 kali massa Bumi) dan mengorbit dalam 2.200 hari. Satu lagi, akan lebih kecil, sekitar 1,4 kali massa Bumi," jelasnya.

Planet ini, kata dia, mungkin seperti bumi yang dipenuhi bebatuan. Namun, ilmuwan ragu di planet ini ada kehidupan, karena terlalu dekat dengan bintang induk sehingga sangat panas. (kd)
vivanews.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons